Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Namanya Juga Putus oleh Nando D'Qicles

Selamat Shubuh teman-teman....
Begitu lama Andra tidak memposting lagi ya...
Mohon maaf, karena Andra lagi sibuk ngegames  kuliah...
Untuk mengobati kerinduan kalian pada Andra, ini ada sebuah cerpen dari temen Andra yang bernama Nando... Cerpennya bagus, tapi .... Ah, yang penting bacalah sendiri ya...
note : Teruntuk Nando, kubalas kau nanti...

Sepasang mata memandang tajam kearah deretan-deretan kalimat dalam kertas hijau yang tersusun rapi menjadi sempurna untuk disebut buku. Bola matanya bergerak teratur menyapu dari kanan ke kiri, balik lagi ke kanan lalu ke kiri. Begitu seterusnya, rutinitas yang sama, dilakukannya hampir satu jam lamanya. Sesekali sudut bibirnya menyunggingkan senyum kecut. Sekecut hatinya yang terlalu lama menunggu.
Sore itu indah. Walau langit tidak memunculkan warna khasnya yang kuning keemasan, ada sedikit mendung bergelayut. Di taman kota itu, ada sepasang tempat duduk panjang terbuat dari rangka besi ditutup dengan cetakan semen di bawah rimbunnya tanaman bamboo  yang berfungsi sebagai pelindung. Ada pohon beringin di tengah taman, ada juga sejenis pohon palem dan beberapa bunga khas daerah tropis seperti anggrek. Rumput hias tumbuh subur berdampingan dengan rumput liar, menyatu membentuk sebuah koloni bersamaan, yang pada akhirnya menghadirkan udara sejuk. Tidak peduli tanaman yang besar pohonnya, produktif atau enggak, bahkan rumput liar pun bersama-sama mempunyai fungsi yang saling berkaitan. Ya, fungsi menyejukkan dalam keindahan taman yang sederhana.
Di taman itu duduklah seorang gadis, bukan seorang gadis cantik layaknya bidadari yang terjatuh dari kahyangan atau gadis super seksi kembang kampus yang gayanya melebihi model iklan sabun. Bukan pula gadis gahol dengan baju tanpa lengan dan rok mini sejengkal di atas lutut. Bukan, gadis itu gadis biasa saja, cantik enggak, seksi juga enggak, bodinya lurus-lurus saja tanpa banyak benjolan dan atau sejenis lekukan indah gitar Spanyol. Ya, biasa aja. Senyuman pas-pasan, raut wajahnya pas-pasan juga. Tinggi standar, berat badannya juga standar, standar mahasiswa kurang terkenal di sekolahan.  Tapi, ada yang membuatnya berbeda dan tampak sebagai perempuan cerdas. Setumpuk buku di samping tempat duduknya serta buku yang ketebalannya melebihi tebal kedua kedua bibirnya yang terkatup bisu. Dengan buku-buku yang dibacanya itu, inner beauty sang gadis terpancar semburat dari keseriusannya dalam membaca, walau sebenarnya inner beauty masih menjadi perdebatan kaum pria sendiri.
Apakah inner beauty atau kecantikan dari dalam itu? Beberapa pria mendalami menyebut kecantikan dalam adalah  sesuatu yang cantik, menarik, di mana kecantikan tersebut merupakan pancaran dari dalam diri seseorang. Pancaran kuat inilah yang menyebabkan mengapa seseorang tampil begitu penuh mempesona.. Tetapi, banyak pria menyebutkan bahwa kecantikan dari dalam adalah kecantikan yang ada di balik pakaian wanita atau dan sejenis itulah pokoknya, bukan kecerdasan dan hati.
“Sudah lama disini, Say?” Tanya iman, pemuda kurus rambut gondrong dengan celana dasar hitam dengan wajah berantakan khas baru bangun tidur dan sebuah tas ransel udik tergelayut pasrah di pundaknya.
“Lumayan, hampir selesai nih buku yang aku baca sambil nunggu kamu.” Kata gadis itu sambil menguntai senyum kecut, melebihi kecut dari manga muda yang jatuh dari pohonnya.
“Maaf, aku telat,” kata Iman sambil duduk di samping gadis itu.
“Peni ngerti kok, Aa. Resiko punya pacar tukang Pelupa itu ya gini. Terkadang kalau telat bahkan lupa kalau kita janjian, alasannya selalu saja soal ketiduran. Nggak apa-apa kok, Peni ngertiian kamu” sahut Peni
Iman menghela napas panjang, “ kamu tahu apa bedanya taman ini sama kamu?” Tanya Iman sambil melirik Peni,kekasihnya.
“Apa?” Tanya Peni singkat.
“Kalau taman ini yang mampir kesini banyak. Say. Tapi kalau kamu yang mampir cuman aku” Iman sok pede dengan rayuan maut khas mbah dukun gombal itu.
“Ihh… so sweet !!! Lagi dong, Aa iman, gombalin aku! Gombalin aku, Aa!” kata Peni dengan muka yang aneh.
“Ehmmm… kamu tahu kenapa aku telat?” Tanya Iman lagi.
“kenapa, Aa?” Peni sok antusias.
“karena aku enggan bangun, Say. Soalnya tadi malam aku mimpiin kamu terus.’’ Sahut Iman senang.
“Ih…. So sweet Aa! Lagi dong, Aa! Gombalin aku! Gombalin aku!” pinta Peni sekali lagi.
“Kamu tahu siapa yang bikin lagu C-I-N-T-A?” Tanya Iman lagi.
“Tahu, Aa. D’bagindas ‘kan?” Peni memberikan jawaban kali ini.
“Iya, kalau C-I-N-T-A itu punya D’Bagindas, tapi kalau CINTAKU itu sepenuhnya punya kamu, Say”
Hening….
Lama sekali hening…..
Masih hening juga setelah tiga belas menit.
Peni diam membisu. Dia tidak merespon kalimat terakhir dari Iman kekasihnya. Iman juga celingukan nggak jelas, bingung dengan Peni yang tiba-tiba diam dan menekuk wajahnya semakin dalam.
“Kamu kenapa, Sayang? Mau aku nyanyiin lagu C-I-N-T-A kesukaanmu itu?” Iman mencoba merayu.
“enggak usah nyanyi, Aa. Aku sudah bosen dengan rayuanmu, baik lewat kata-kata maupun lagu. Aku jujur Aa nggak butuh itu. Aku udah terlanjur kecewa dengan Aa. Aa terlalu banyak lupa, Lupa dengan ulang tahunku , lupa dengan Aniversarry kita, lupa dengan momen bahagia kita.” Peni tiba-tiba nyerocos panjang lebar.
“tapi Say….” Iman mencoba membela.
“tapi apa?” Peni memotong pembicaraan. “berhenti panggil aku sayang. Aku pengen kita putus!!” Peni melanjutkan pembicaraannya sambil meninggalkan tempat mereka duduk berdua tadi.
Kata-kata Peni bagaikan petir di sore bolong. Iman tidak mampu berbuat banyak. Dia seakan tertempel oleh ribuan kilo semen basah di kursi tempatnya duduk. Tidak ada yang bisa dia perbuat.
“Iman?” sebuah tangan dengan lembut menyentuh bahu Iman.
Iman menoleh pelan. Andra, sahabatnya yang juga teman satu kelas itu tiba-tiba berdiri di belakangnya.
“Kamu kenapa, wahai sahabatku? Tadi aku melihat kamu berdua dengan Peni lalu Peni meninggalkanmu? Aku baru selesai mengikuti ekstrakurikuler basket, wahai sahabatku? Sahut Andra mencoba memulai pembicaraan
Iman masih terdiam, tidak mengubis apa yang ditanyakan oleh sahabatnya Andra.
“ya udah. Mari pulang, wahai sahabatku. Aku akan menghiburmu. Aku nggak bakal ninggalin kamu. Kamu tahu apa bedanya kita dan bus kota? Tidak perlu kau jawab , yang jelas kita ini tidak jauh berbeda dengan bus kota, sama-sama banyak yang naik banyak juga yang turun. Begitulah kita sebagai manusia. Sebagai pria, kita harus seikhlas bus kota. Ada yang naik kita terima, ada yang turun kita terima. Jika Allah sudah berkehendak, kun fa yakuun ,  maka dengan mudah semua akan menjadi dan terjadi pada kita umat-Nya.” Andra mencoba tersenyum.
“Ah! Kalau itu garingnya sudah semena-mena Ndra! Pulang sajalah kita! Tidak baik disini berdua! “ kata Iman sambil bediri dan mengambil tasnya.
“ Ya… ya…. Kita pulang saja lagian siapa mau berdua dengan kamu disini man. Aku bukan maho” sahut Andra sambil berjalan keluar taman.
Keduanya berjalan pulang berdampingan, sambil pegangan tangan.
-END-

By: Nando Pamandes Putra

Minggu, 02 November 2014

Dunia Tidak Seperti Dalam Cerita

"Haahhh!" Ku hempaskan tubuhku di atas kasur. Kupejamkan mata ini sejenak. Tetapi tetap saja bayangan kejadian itu kembali datang. Kututupi mukaku dengan bantal dan berteriaklah aku sekuat tenaga "Aaarggh!". Tiada juga dapat menentramkan hati ini, segera saja aku bangkit dan menyambar jaketku. Bergegas aku menuju sepeda motorku, dan "Brrruumm..". Aku pacu sepeda motorku secepat mungkin meninggalkan rumah.

1 jam sebelumnya...

"Kamu siapa? Apa mau kamu? Kenapa kamu selalu mengikutiku?" Tanyaku dengan raut wajah ketakutan sambil menatap sosok di depanku.
"Aku adalah malaikat maut... Aku akan mengambil jiwamu sebentar lagi... Tepat satu jam dari sekarang..." Kata sosok tersebut.
"Tidak, aku tidak mungkin mati... Umurku masih panjang... Masih banyak hal-hal yang harus ku lakukan di dunia ini..." Jawabku dengan perasaan marah bercampur takut yang teramat sangat.
"Aku hanya datang memperingatkanmu.. Semua terserah kamu sekarang..." Kata sosok itu lagi sebelum ia menghilang.

"Aku, tidak mungkin  mati... Umurku masih panjang.. Aku pasti tidak akan mati satu jam dari sekarang..." Gumamku dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan.

Semakin aku memikirkannya, semakin cemas diriku. Semakin takut aku dibuatnya. Hingga akhirnya...

1 jam kemudian...

Saat ini aku tengah mengendarai sepeda motorku. Aku pacu ia dengan sangat cepat. Berharap bisa lolos dari maut. Namun, dunia tidak seperti dalam cerita. Tiba-tiba, ada mobil di depanku berhenti mendadak. Hal itu menyebabkan aku tidak sempat mengelak dan akhirnya motorku menabrak bagian belakang mobil itu. Aku terpental, selang beberapa detik aku merasakan tubuhku terhempas ke aspal jalan. Seketika, semua menjadi gelap.

Yah, hidup tidak seindah seperti yang ada di cerita. Tidak pernah seindah seperti apa yang ada di dalam mimpi-mimpi manis kita. Buktinya adalah kejadian hari ini. Kejadian yang sama sekali tidak pernah kuduga akan terjadi.
Selama ini aku selalu berpikir bahwa hidup ini sangat indah, semua sesuai dengan apa yang kita mimpikan, sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun, pada kenyataannya sungguh sangatlah berbeda. Hidup ini tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Akhirnya aku sadar, dunia tidak seperti dalam cerita.

Seperti sekarang ini, aku tengah berada di sampingmu. Menceritakan hal ini kepadamu. Ya memang benar bukan? Dunia Tidak Seperti Dalam Cerita... :) #senyumku_untuk_mu

Minggu, 10 Agustus 2014

Kupu-Kupu Merah : Chapter 2 - Namaku Andita Fitriani

Untuk pertama kalinya, aku dihukum berdiri di depan kelas. Ironisnya, hal tersebut terjadi pada saat aku baru mulai bersekolah di sekolah yang baru. Sekarang, bagaimana tanggapan teman-temanku yang baru ini. Apakah aku sudah dicap buruk oleh mereka atau dicap anak nakal. Jawabannya yah mungkin saja demikian.

Iseng-iseng aku mencoba memperhatikan isi ruang kelas ini sekaligus mencoba menghibur diri. Kuedarkan pandanganku ke setiap penjuru kelas. Setelahku perhatikan dengan seksama, kelas ini cukup indah, dengan kombinasi warna hijau dan biru, dan beberapa hiasan dinding yang terpajang. Di bagian belakang  ada sebuah peti yang cukup besar ukuran 1m x 50cm x 1m. Meja-meja terbuat dari bahan kayu sedangkan kursi dari bahan logam, mungkin dari besi kataku mengira-ngira. Yang paling mewah dari semua itu adalah meja guru, berbahan dasar kayu yang dilapisi kaca diatasnya, yang sebelumnya telah dilapisi sejenis alas hijau terlebih dahulu. Kursi guru ini adalah kursi putar-putar aku menyebutnya, karena kalau duduk di sana bisa berputar. 

Tak cukup mengamati ruang kelas ini, pandanganku pun merambah ke penghuninya. Seorang siswa yang duduk di kanan terdepan kelihatan sedang menuliskan sesuatu, yang dibelakangnya kelihatan sedang mengetuk-ngetuk bibir dengan pena yang sedang dipegannya. Ada pula yang terkantuk-kantuk, bahkan ada pula yang sudah tertidur dengan sekali-kali bangun ibarat lampu pijar yang kekurangan daya, sebentar-sebentar redup sebentar-sebentar terang. Selebihnya semua keadaan siswa di kelas ini sama, tegang. Pandanganku terhenti ke seorang gadis, teman sebangkuku yang sudah ikut andil dihukum berdirinya aku didepan kelas. Tapi entah kenapa, pandangannya kosong menatap ke luar jendela. Aku jadi penasaran kenapa dia bisa seperti  itu, apakah ada hal yang dipikirkannya? Entahlah, aku tidak terlalu peduli. Karena dia sudah membuatku dihukum berdiri di depan kelas seperti ini. Ku umpat-umpat dia dalam hati, tapi hal tersebut tidak berlangsung lama karena bel tanda waktu istirahat telah berbunyi. Pak Gentong pun mengakhiri pelajarannya dengan muka yang mesam-mesem.

“Ya nak-anak, kupcukup pelajaran hari ini... Jangan lupa pekerjaan mahrumah yang bapak riberi tadi, dikerjakan! Lusa pulkumpulkan di meja bapak...”
“Baik pak...” koor seluruh siswa di ruang kelas tersebut, kecuali aku. Mau gimana lagi, aku kan lagi dihukum didepan kelas jadi tidak memperhatikan pelajaran si Pak “Yetakye” ini. “Ndre, lain kali jangan diulangi lagi ya...” pesan Pak Gentong sebelum keluar kelas.
Baru saja punggung Pak Gentong menghilang setelah keluar dari kelas, suasana kelas ini berubah seketika. Aku yang baru saja kembali ke tempat dudukku segera dikerumuni beberapa siswa-siswi yang ingin berkenalan lebih jauh. Aku hampir dibuat sesak nafas oleh mereka. Seolah menyadari aku yangg sedikit kesulitan bernafas, mereka lalu memberikan sedikit ruang kepadaku.
“Wah, berani betul kau anak baru... Kita-kita aja tidak ada yang berani dengan Pak Gentong...” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku sedikit keheranan dengan perkataan dia. “Oh iya sampai lupa, namaku Frans.. Nama kau Andre kan? Salam kenal ya..” kembali ia menepuk-nepuk pundakku. “Salam kenal juga Frans” kataku sambil mengulurkan tangan untuk mengajaknya jabat tangan. Sepertinya Frans ini ada keturunan bataknya, soalnya gaya bicaranya itu agak-agak gimana gitu. Setelah si Frans, banyak teman-teman lain yang juga berkenalan denganku, ada Boni, Ade, Bela, dan masih banyak lagi, kecuali cewek yang duduk di samping tempat dudukku tadi. Kebanyakan dari teman-teman baruku ini menanyakan bagaimana caranya biar bisa berani sama Mr. Gentong, tapi hanya aku jawab dengan senyuman saja karena aku tadi memang benar-benar tidak sengaja dan belum memahami karakter guru-guru yang mengajar di sini. Jadi, aku sudah bertekad untuk mengadakan survey tentang guru-guru terhitung mulai besok pagi sampai dengan selesai.

Lamunanku buyar ketika Frans kembali menghampiriku untuk mengajak pergi ke kantin. “Oii Ndre, ke kantin aja yuk... Kau harus mencicipi masakan di kantin Mbok Darmi...” ajak Frans dengan wajah nyengirnya. “Boleh juga tuh... Ajak yang lain juga ya..”. Hubungan pertemanan akan segera terjalin dengan baik apabila kita bersikap ramah terhadap teman-teman baru kita. “Bela, ikutan ke kantin yuk..”. “Boleh juga, ayuk..” jawab Bela. “Ndre, cuman Bela yang diajak? Aku nggak ya Ndre?” kata Boni merajuk. Sedikit gambaran, si Boni ini memiliki perawakan tinggi, agak gendut, rambut dipotong cepak, dan hobi sekali makan. “Hahaha, sorry Bon... Iya deh aku ajak juga, aku traktir malah” sebuah ajakan traktir yang akan kusesali nantinya. “Jadi Cuma Boni aja yang diajak dan ditraktir Ndre? Aku nggak?” si Ade ikut-ikutan merajuk sambil menarik-narik bajuku, dalam hati aku berkata “Memangnya aku ini Ibu kamu... Pake acara tarik-tarik baju segala”. Tapi tak urung pula, si Ade juga aku ajak dan aku traktir. Bahkan bukan cuma mereka berdua saja, Frans dan Bela juga merajuk minta ditraktir. Akhirnya aku mentraktir empat orang sekaligus, aku pikir tidak apa-apa mentraktir sekali-sekali, hitung-hitung amal. Jadilah kami berempat berjalan bersama menuju kantin sekolah. Tentu saja tujuan dari kami cuma satu sesuai promosi dari Frans, yaitu kantinnya Mbok Darmi.

*

“Boni! Kemarikan menunya... Kau ini gimana sih? Harusnya Andre dulu yang lihat, dia kan yang traktir... Kalau kau nanti saja...” kata si Frans sambil melotot ke arah Boni, dipelototin seperti itu membuat Boni tersenyum kecut lalu tertunduk ke bawah, Boni yang malang. “Nih, Ndre... Kau dulu yang pilih menunya...” Kata Frans sambil menyodorkan menu kepadaku. “Wah, aku bingung nih... Aku ikut kamu aja ya Frans... Sekalian samain aja semuanya” Kataku pada Frans, karena jujur melihat menu itu serasa semuanya ingin ku pesan dan ku makan. Aku memang suka makan, karena makan adalah tengahku Andre “makan” Kurniawan. Namun, anehnya badan ku begini-begini aja, nggak kelihatan gemuk sedikitpun.
Jadi, akhirnya kamu semua sepakat memesan Bakso Tenis Spesial Enak Lezat Sedap dan Mantap. Aku tidak mengerti, kenapa nama bakso ini panjang sekali. Mungkinkah bakso ini sungguh enak sehingga Enak Lezat Sedap dan Mantap.

“Yeeeeee, baksonya udah datang... :D” Kata Boni tiba-tiba. Aroma bakso yang satu ini sungguh menggiurkan. Tanpa dikomando kami semua segera menyantap bakso tersebut. Boni yang kelihatan sudah sangat kelaparan, mampu menghabiskan satu mangkok bakso dalam 3 menit, dan memohon-mohon kepadaku agar diperbolehkan menambah. Aku yang saat itu sedang sibuk dengan baksoku mengiyakannya saja. Hingga akhirnya, ketika kami semua selesai dengan bakso kami masing-masing, aku melihat 4 mangkok berada di depan Boni. Hoalah, Boni sudah menghabiskan 4 mangkok bakso, dan tekorlah aku. Uang jajanku tinggal separuh lagi berkat si Boni. “Terima Kasih ya Boni..” sindirku kepadanya. “sama-sama Ndre, baksonya enak banget lho.. Aku kenyang.. “ jawab Boni sekenanya. Aku, Frans dan yang lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat si Boni.

*

Kringg...
Bel pulang sekolah berbunyi... Akhirnya, waktu pulang pun tiba... Ini adalah hal yang paling ditunggu oleh para siswa-siswi sekolahan. Di kelas hanya tinggal aku sendiri yang masih membereskan peralatan sekolahku. “Namaku, Andita Fitriani... Salam kenal”. Eh, itu tadi suara siapa ya? Celingukan aku mencari sumber suara tersebut, sekilas aku lihat gadis yang duduk disebelahku baru saja keluar dari ruang kelas.

Kamis, 23 Januari 2014

Kupu-kupu Merah : Chapter 1 - The Beginning

http://zevart.files.wordpress.com/2013/04/black-butterfly-flying-at-the-red-sky-night.jpgAku baru saja pindah ke kota ini, karena orangtua ku dipindah tugaskan ke kota ini. Oh iya, namaku adalah Andre, Andre Kurniawan lengkapnya. Yah kepindahan  orangtuaku ke kota ini membuat sebuah lubang di hati ini. Apakah aku betah di sana nanti? Apakah aku akan punya banyak teman di sana nanti? Apakah aku? Apakah aku? Semua pertanyaan itu menghantuiku terus. Sebelum aku pindah ke kota ini.
Setelah satu bulan menetap di kota ini, semua pertanyaan aku tadi terjawab. Tidak seperti yang kuduga sebelumnya, ternyata kota ini sangat menerima diriku. Aku memperoleh banyak teman baru, pengalaman baru, bahkan tak ketinggalan kisah yang menyeramkan pun pernah ku alami.

Kupu-kupu, siapa yang tidak tau kupu-kupu? Hewan mungil yang memiliki sepasang sayap yang indah ini sungguh cantik. Namun, siapa sangka hewan ini dahulunya sangat jelek sekali, namun dia bisa berubah menjadi cantik seperti itu. Lalu, apa kaitannya kupu-kupu dengan ceritaku nanti? Teman-teman mungkin tidak akan percaya, tapi aku akan coba menceritakan cerita ini sedetail mungkin.

Cerita ini bermula ketika aku baru mulai masuk ke sekolah yang baru, yah karena aku akan masuk sekolah baru, akan bertemu dengan teman baru, dan akan mencari gebetan baru (cieelah.. :D hihihi...) Aku pagi itu berdandan total ala cowok, pake seragam rapi-rapi, dasi rapi-rapi, buku-buku pelajaran pun ku benahi. Tapi ada satu kekurangan aku, nggak pernah sisiran rambut. Kebayang nggak? Gimana bentuk sebuah rambut yang tidak disisir? Seperti sarang burung kah? Atau seperti tumpukan jerami? Ahh sudahlah, yang pasti aku suka begini adanya. Oke, lanjut ke cerita.
Pagi itu sesudah mempersiapkan semuanya, aku langsung saja mau berangkat sebelum Mama memanggil buat sarapan. Soalnya, kalau Mama sudah manggil buat sarapan, maka harus sarapan. Jika tidak, maka aku tidak akan dibuatkan makan siang dan makan malam. Hal ini juga berlaku buat anggota keluarga lainnya...
"Andreeee, ayo sarapan duluu...." Panggil Mama. "Hoalah, -_- ... Harus sarapan dulu deh..." kataku dalam hati. " Iyaaa Maaa, bentar lagi Andre turun..." jawabku. Yah jadilah pagi itu aku sarapan dulu bertemankan nasi goreng spesial ala Mama (Nasi goreng spesial Mama = Nasi+telur+cabe merah+merica+bawang putih+garam+kecap). Yap selesai sarapan, "Maaaa, Andre pergi yaaa... Assalamu'alaykum..." pamitku pada Mama. "Wa'alaykumsalam..." jawab Mama. Dan berangkatlah aku menuju ke sekolah baru dengan mengendarai kaki... :D

Tong teng tung ting tang... Bel Sekolah sudah berbunyi... Hap! Untung saja aku dengan gaya ala film-film action barat dapat melewati gerbang sekolah sebelum ditutup. Fiuhh... Hampir saja terlambat... Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku segera melesat bagai anak peluru panah menuju ruang kepala sekolah.
"Andre, kamu dari mana saja? Sudah Ibu tunggu daritadi. Ini wali kelas kamu, Pak Gentong. Silahkan ikuti dia menuju kelasmu." kata Bu Susi, Bu Susi ini masih ada hubungan keluarga denganku, makanya ia tidak marah ketika aku datang agak terlambat hihihi :D. "Iya Bu..." jawab ku. "Lha iyalah, mari pat cepat takye... Rid murid pasti udah dapada nungu lama ini..." kata Pak Gentong. "Iya Pak..." jawabku. Aku pun berjalan mengikuti Pak Gentong menuju ruang kelasku. Kalo diperhatikan Pak Gentong ini perawakannya gembul, gendut, tinggi 160 cm, kumis ala India -_-, dan yang paling khas adalah celana yang dinaikkan sampai perut persis Mr. J*j*n :). Tap! Pak Gentong berhenti, aku pun ikut berhenti. "Nah, Nak Andre.. Ini dia ruang laskelasnya takye... Silahkan sukmasuk, nanti nalkenalkan dirimu ketika dahsudah saya suruh ya..." kata Pak Gentong. Aku hanya menganggukkan kepala sekali. Kok cuma sekali? Hemaaattt dong, Hahaha...
Jlebbb! Aku memasuki ruang kelas, yang rasanya tegang banget. Hal ini baru aku ketahui dikemudian bahwasanya kalau sedang jam pelajaran Pak Gentong wajib tenang, kalo tidak bersiaplah menghadapi nilai dibawah 50.
"Ridmurid sekalian, ini kalian nyapunya teman baru. Ndre, silahkan perkenalkan dirimu." perintah Pak Gentong ketika kami sudah berada di depan kelas. Semua bola memata memandang kepadaku, semua kepala menoleh kepadaku, dan semua kacamata mengarah padaku. "Perkenalkan namaku Andre Kurniawan, salam kenal ya... :)" kataku dengan ramah. Nyeepp! Tapi tetap aja hening. "Nah, Andre... Kamu silahkan duduk dibangku songkosong itu." kata Pak Gentong. Tanpa banyak bicara aku pun segera menuju bangku yang dimaksud tersebut. Dan Ya Amplop! Teman sebangku cewek lagi. Sip, nggak bakalan bosen nongkrongin nih bangku. Mana ceweknya cantik pula. Tapi, tetap aja diam. Seisi kelas seluruhnya diam semua kecuali Pak Gentong yang telah memulai pelajarannya, dengan terpaksa akupun ikut diam.

Selama pelajaran berlangsung, aku nggak bisa konsentrasi sama sekali. Yah mau gimana lagi coba, aura kelas yang sangat tegang banget ditambah kamu duduk bareng cewek cantik yang belum kamu ketahui namanya. Aku sangat penasaran waktu itu, aku ingin segera berkenalan dengannya. Tapi melihat suasana menegangkan seperti ini aku jadi berpikir dua kali. Pernah dengar cerita bahwa setiap manusia itu punya penasihat di kanan dan kirinya, yaitu si baik dan si jahat. Nah begitulah aku, si baik dan si jahat saling beradu tentang masalah perkenalan ini. "Sudah, kamu kenalannya nanti saja Ndre. Kan jam istirahat nanti bisa..." kata si baik. Namun segera dibantah oleh si jahat "Alaaah, kelamaan Ndre.. Jangan dengarkan si sok baik itu.. Kamu kenalannya sekarang aja..". "Jangan Ndre, nanti kamu kena masalah... Lebih baik kamu belajar dulu.." kata si baik. "Sekarang aja Ndre, biar lebih seru.. Kan masih hangat Ndre." rayu si jahat lagi. Aku mulai termakan bujuk rayu si jahat. "Hmmm.. Bagaimana caranya..." tanyaku pada si jahat. "YES! Nah begitu dong Ndre... Caranya, kamu tulis di potongan kertas biar nggak ketahuan sama si gentong.." kata si jahat dengan senangnya karena aku menuruti kemauannnya. "-_- Andreeeee... Lebih baik jangan... Nanti kalo ketahuan Pak Gentong gimana?" si baik masih berusaha menasihatiku. "Iya, kalo ketahuan gimana?" kataku pada si jahat. "Itu masalah kecil Ndre, kertasnya tinggal kamu remes-remes dan hilanglah barang bukti... Hihihi... " jawab si jahat. "Ndre, jangan Ndre..." si baik masih berusaha menasihatiku, tapi sudah tak ku hiraukan lagi. Aku segera merobek kertas dan membuat tulisan Hi, boleh kenalan nggak? Namaku Andre Kurniawan, nama kamu siapa? di kertas itu, lalu aku geser ke mejanya. Si jahat bersorak sorai melihat itu, dia tertwa kegirangan, sebaliknya si baik bersedih melihatnya, tak lama kemudian mereka berdua menghilang. Setelah lewat satu menit kertasku belum dibalas juga, maka akupun menulis kertas ke dua Hi, kok nggak dijawab? tulis ku di kertas itu, lalu aku geser ke mejanya lagi. Tak kunjung dibalas, aku pun menulis di kertas yang ketiga Hmmm... Duh, dijawab dong... Nama kamu siapa? Tulisku dengan tidak sabaran. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, ada jawaban. Yesss!! Sorakku dalam hati. Segera saja aku baca isi kertas tersebut Kamu niberaninya mengacau di laskelas sayya takye, padahal kau murid rubaru takye, kau rusharus dihukum dipandepan kelas takye... . Wah saya sangat senang sekali, eiiittss, tunggu dulu... Logat ini, bahasa ini, takye?, jangan-jangan... Segera aku mendongakkan kepala ke atas. Ya Amplop, ku lihat wajah kumis India Pak Gentong yang telah berdiri di meja aku dan si cewek tersebut. "Andreeee, kau sayya kumhukum berdiri dipandepan kelas takyeee... SEKARANG!!" kata Pak Gentong dengan suara yang menggelegar. Hoalah, pantas saja kelas ini tadi tegang banget, rupanya Pak Gentong ini termasuk guru killer. Kok aku terlambat menyadarinya ya, ehhh tapi bukan semua salahku kok, ini kan salah Pak Gentong juga kenapa bahasa dan fatsifatnya berbeda, ups ketularan dikit.
"Andreeee, apa rusharus saya ulangi lagi takye? Untung kau ini ridmurid baru, kalau tidak lainilai kau sudah sayya buat rahmerah takye..." tambah Pak Gentong lagi. "Iya Pak, segera dilaksanakan.." jawabku ketakutan. Aku melangkah gontai menuju depan kelas dan berdiri di sana sesuai perintah Pak Gentong.
Aku lihat semua teman-teman di kelas pada senyum-senyum melihatku berdiri di depan kelas, termasuk juga cewek yang duduk denganku tadi. Bagus! Anak baru yang mengacau di kelas di hari pertamanya masuk sekolah. Sungguh suatu permulaan yang buruk. But, it's just The Beginning.

Tunggu Chapter selanjutnya ya... :D
Kupu-kupu Merah : Chapter 2 - Namaku Andita Fitriani

Rabu, 22 Januari 2014

Catatan Si John

Karya Iman Darmatama... :)

Deru hujan yang turun seperti menggambarkan kebimbangan yang sedang aku rasakan saat ini. Perasaan ragu dan gelisah tentang suatu masalah yang aku buat sendiri, seharusnya dulu aku harus siap dengan semua resiko yang akan aku hadapi. Tapi sepertinya aku malah harus mengembalikan semua kata-kata yang telah kuucapkan pada seseorang . "Je suis amoureuse de toi " itu adalah kata-kata super yang salah untuk diucapkan. Kata-kata itu memiliki arti dalam dan tak bisa dijadikan sebuah permainan belaka. Dan itu merupakan kesalahan fatal yang telah aku lakukan “Sial-sial kepalaku sakit.” gumamku. Kata-kata itu pernah aku ucapkan pada seseorang, yang awalnya hanya untuk main-main ternyata kata-kata itu benar-benar aku rasakan. Semua kegilaan muncul secara berturut-turut dari kata-kata itu. “Kenapa harus seperti ini? Akhirnya juga akan kembali pada kesimpulan awal.”. Kesimpulan awal yang dimaksud adalah kesimpulan yang aku dapat dari sebuah percobaan dan penelitian gila tentang hubungan antara lelaki dan wanita, semacam karya tulis tetapi lebih bersifat pribadi dan tertutup untuk umum. Penelitian ini aku beri nama “pedekate si Buruk rupa.” semua data yang diperlukan telah aku dapatkan dari penelitian langsung di lapangan. Teman sekelasku pernah memanggilku playboy, ya, hal itu terjadi karena percobaan dan penelitian gila yang telah aku lakukan. Saat itu, aku duduk dikelas XI IPA 3, dan percobaan dimulai dari sempel pertama yaitu seorang cewek dari kelas X3. Aku mendekati seorang cewek yang cukup cantik, padahal sebenarnya saat itu bertepatan dengan seminggu setelah aku menyelesaikan hubunganku (PUTUS) dengan seseorang. Penelitian awal memang menyimpulkan hal baik, tetapi setelah melakukan pendekatan dari kelas X6, X4, X5, X2, X7, dan X1. Aku mendapatkan suatu kesimpulan yang berlawanan. 6 dari 7 cewek lebih mementingkan penampilan daripada hati. Jadi kembali kepada cover saja, cewek sebagian besar lebih menilai cowok dari penampilan dan tampang yang oke. Cowok seperti diriku ini sebaiknya jangan terlalu berharap.
Tanpa sadar diriku teringat akan percakapanku dengan temanku beberapa waktu yang lalu. “John, ada apa dengan wajahmu ?” tanya Gento teman online sejati diriku. Dia satu dari 2 orang yang sering mengajakku untuk online malam-malam, buat status galau lalu saling mengkomentari status masing-masing. “Aku? Cuma galau.“ kataku kepada Gento. “Hahahahahaha, makanya jangan suka dekatin cewek melulu.” Kata Gento dengan nada mengejekku. Tanganku masih menggali tambang emas dilubang hidungku yang kanan sambil berpose ala model SPG yang duduk di atas motor. “Bisa cepat nggak sih? Jadi nggak kita pergi ke warner buat online malam ini ? Aku sudah lama menunggumu di sini Beibeh!” Teriakku pada Gento yang baru saja nongol dari pintu rumahnya setelah mencomot beberapa onde-onde buatan Ibunya. “Iya, iya Beibeh...” Balas teriak Gento dengan mulut yang penuh dengan 10 buah onde-onde di dalam mulutnya.
Semua cerita tentang kata-kata super itu bermula di satu tempat yang dipenuhi dengan buku-buku di mana setiap orang bebas membaca dan meminjamnya, tempat itu disebut perpustakaan. “Hmmm, dia mirip seseorang.“ pikirku saat melihat seorang cewek yang duduk manis menghadap komputer. “John, kamu bawa laptop nggak?” sebuah suara manis memanggilku, aku mencari-cari sumber suara tersebut. Cukup lama aku linglung mencari sumber suara tersebut dengan toleh kanan dan kiri, akhirnya aku berniat untuk pergi karena merasa ada seseorang yang sedang mengerjaiku. Ketika aku berbalik badan, ternyata………. “Lho? Nia? Kamu yang tadi panggil namaku ya? Eh… Iya.. Aku bawa laptop kok. Memangnya ada perlu apa Nia?” tanyaku sambil mendekatinya. Saat itu Nia tepat duduk di sebelah cewek yang sempat menarik perhatianku. “Boleh pinjam laptopnya nggak John? Aku mau cari lagu…” Aku pun langsung memberikan laptopku pada Nia. Tiba-tiba, rasa penasaranku kembali muncul. Rasa penasaran ini semakin bergejolak ketika melihat cewek itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mencoba mencari tahu siapa nama cewek yang telah membuat diriku seperti ini pada Nia. “Nia, kamu kenal nggak sama cewek yang duduk disebelahmu?” Dan ternyata sesuai dugaanku Nia kenal dengan cewek tersebut. “Oh, itu adikku John…” Jawabnya. ”Ohh, pantas saja mirip… Hehehe tapi cantikan adikmu yaa…” Pikirku sambil mencuri-curi pandang terhadap adiknya Nia. Namun, ada satu hal yang kulupakan saat ini. Aku lupa menanyakan siapa namanya dan berapa nomor handphonenya sesalku kemudian.
Tepat saat ulangan semester genap, entah dari mana aku secara ajaib mendapatkan nomor handphonenya. Pada awalnya aku cuma mau main-main saja dengan ngerjain dia, “Sumpah! Cewek ini super duper jutek begete”. Dan ini pertama kalinya aku kenal sama cewek yang super duper aneh dan jutek kayak gini. Nama cewek jutek ini secara ajaib aku ketahui dari teman-temannya. Namanya adalah Aulia. Sebenarnya, Si Aulia ini tidak terlalu menarik, Tetapi entah kenapa ujung-ujungnya aku merasa tertantang untuk mendekatinya. Tujuan pertama diriku sebenarnya adalah hanya ingin membuat sebuah perubahan kecil di ekspresi wajahnya yang super duper jutek. “Hmm, Aulia. Kamu sebenarnya cewek yang manis, namun akan lebih manis lagi apabila kamu tersenyum. Oleh karena itu bisa senyum sedikit tidak?” Selalu saja kata-kata itu yang aku ketikkan lewat sms kepada dirinya saat selesai mengerjainya. Tetapi akhirnya aku mendapatkan bisikkan dari hatiku yang paling dalam. “Bagaimana kalau aku pedekate saja sama dia”. Memang sebenarnya cukup aneh sih, ngerjain cewek kayak dia. Seolah-olah diriku marah agar dia balik balas sms aku, kadang kala aku buat dia marah dan aku yang harus berjuang untuk minta maaf, dan sebagainya. Dan yang lebih gila lagi aku pernah ngerjain dia dengan tanpa sengaja mengatakan kata-kata super yang duper ajaib itu. “Gila! Nekat banget…”.
Saat aku baru bangun tidurku, entah angin apa yang meniup disela-sela keheningan seolah dia berbisik kepadaku “kamu telah mendapatkan keajaiban.”. Dia mengatakan kata-kata yang sama seperti perkataan diriku kepadanya dan yang lebih mengejutkan lagi, dia juga mengetahui arti dari kata-kata super duper ajaib itu. “GALAU” ya, seperti itulah yang aku rasakan sekarang. Aku berpikir nggak mungkin bangetkan baru kenal, masa iya langsung sms seperti itu kepadaku. Masalah galau lewat setelah beberapa minggu, Aku mengulang kembali kenakalanku untuk mengerjai si dia. Karena kesalahan kata-kata super duper ajaib itu yang membuat hubungan ku semakin jauh, tidak bisa sms seperti biasa kepadanya.
Akhirnya aku memutuskan untuk lanjut mengerjai dia lewat salah satu social network yang terkenal, yaitu facebook. “Sumpah! lucu banget kalo lihat ekspresinya saat lagi marah-marah karena aku kerjain” berbuat serampangan memag mudah, namun masalah penyesalan pasti selalu datang belakangan. Sekarang gara-gara dulu aku suka mengerjai dia dan sms’an dengannya, beberapa teman kelasku yang suka baca sms orang tanpa izin malah suka mengolok-ngolok bahwa aku suka sama dia. (teman ku pasti gila semua, wong aku cuma anggap sebagai adik kelas doang kok).
Dan ternyata dikemudian hari, hal itu menjadi awal dari permasalahan kata-kata super yang duper ajaib itu. “suis amoureuse de toi”, aku sekarang pasti lagi demam. Kenapa sekarang aku malah benar-benar men******nya (maaf disensor). Dan kenapa hal itu harus terjadi disaat aku mau menjauhi dirinya. Kurasa kata-katanya dulu memang benar. Aulia pernah berkata seperti ini “Jika kamu menjauhi seseorang yang kamu sukai itu akan membuat kamu semakin menyukai dirinya” intinya aku akan semakin ***** (disensor)…bla…bla…bla…bla…bla...bla… dan bla….bla…, yang nulis juga lagi super duper pusing gara-gara masalah yang disebabkan ole kata-kata super yang duper ajaib ini "suis amoureuse de toi". Dan ayolah ini pasti ujung-ujungnya akan kembali kecerita awal sesuai penelitian yang telah aku lakuka. Alangkah susahnya hidup kalau kayak gini terus, berusaha menghindar dari kenyataan yang ada. Persentasi keberhasilannya cuma 5 %

Bersambung, (sambung sendiri, yang nulis lagi pusing) dan tolong kalo mau komen tulis nomor hapenya. OKE ???

Note : Cerpen ini adalah murni karya Iman Darmatama, hanya saja Iman meminta tolong pada saya untuk menjadi editornya hehehe... :D

Sabtu, 28 Desember 2013

First Meet Bag. 3 (Akhirnya kutemukanmu)

Begitu pintu kelas terbuka seluruh siswi segera memasuki ruang kelas. "Teman-teman sebentar ya, harap tenang... Kita ada beberapa pengumuman ni." Kata Riki di depan kelas. Riki ini adalah the leader of our class... :D Yeah, he was look cool (remember "was"). "Pengumuman apa Ki?" Tanya salah satu temanku. "Iya Ki, apa pengumumannya? Cepat kasih tau ke kita."  Tambah yang lainnya. "Begini, sore nanti sekolah kita akan mengikuti Marching Band Competition, jadi teman-teman semua mohon hadir ya di kompetisinya. Mari kita dukung Tim Marching Band sekolah kita..." terang Riki kepada seluruh teman-temannya. Setelah pengumuman tersebut selang beberapa menit Bu Hana masuk ke kelas dan pelajaran Sejarah pun dimulai.

Tidak banyak yang terjadi selama pelajaran Sejarah berlangsung. Kita hanya membahas materi-materi lama yang kemudian dikembangkan lagi. Namun, pelajaran Sejarah ini cukup menarik buatku. Bukankah Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari pengalaman dan sejarah masa lalu. Maka agar bangsa ini bangkit, belajarlah Sejarah. :P hehhee...

Tidak terasa, waktu pulang pun tiba. Semua siswa-siswi segera pulang ke rumahnya masing-masing. Tidak terkecuali aku, aku saat itu berada diparkiran menunggu adikku. "Mamaaass.... :D" panggil adikku. Segera aku menoleh dan tersenyum sambil berkata "Ayo, kita pulang...". Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, adikku bercerita tentang apa saja yang terjadi hari itu di sekolahnya. Mulai dari hal yang menyenangkan hingga menyebalkan semua ia ceritakan. Waktu perjalan pulang yang lebih kurang 10 menit terisi semua oleh ceritanya. Yah memang begitulah kalau punya adik, harus siap mendengarkan ceritanya dan memberinya dukungan.

http://www.amirzuhdi.com/wp-content/uploads/2012/12/Cinta-Membara-1.jpgSaat tiba di rumah, segera aku berganti pakaian, membasuh muka, tangan dan kaki serta kemudian dilanjutkan makan siang. Setelah itu semua, aku segera masuk ke kamar dan membaca buku sambil menunggu waktu 15 menit sebelum pukul 2 siang aku sudah mandi dan bersiap untuk mendukung Tim Marching Band Sekolahku. Sesampainya di sana, segera saja aku mencari di mana keberadaan teman-temanku, karena kompetisinya sudah mau dimulai. Kan tidak enak rasanya mendukung tidak bersama teman-teman sejawat. :D Namun, yang aku temukan malah sesosok gadis berpakaian merah-merah sedang berjalan. Sejenak aku terpana menatapnya. Oh My God, what a bautiful girl... Pikiran aku saat itu sudah berganti menjadi "Aku harus mendekati gadis tersebut". "Namaku Dela..." Jawabnya setelah aku sapa dan ajak berkenalan. Wah, ternyata dia pernah satu SD, SMP, bahkan satu SMA denganku. :D Aku pikir ini akan menjadi menarik nantinya. Segera saja, selama kompetisi aku tidak pernah jauh-jauh dari dia. Timbul ide nekatku untuk mengenggam tangannya dengan alasan kerumunan orang yang banyak dan takut terpisah nantinya. Tidak ada penolakan darinya, maka jadilah aku mengenggam tanganya selama kompetisi itu. Ada satu rasa yang aneh dalam diriku. Rasa yang membuat jantung ini berdebar-debar. Rasa apakah ini?

Inilah akhir dari cerita "First Meet"... Terima Kasih sudah membaca, meskipun ceritanya agak sedikit ngaco dan nggak nyambung. :D Cerita ini adalah cerita pengantar saja untuk cerita-cerita yang lebih asyik dan menarik... :D Jadi, tetap ikuti blog cerita-andra yaaa... :D

Jumat, 27 Desember 2013

Cyber - Menggapai Taman Langit Karya. Ari Jauhari

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-VukialPRS1JnyXCFW9_nb8-OlfUUJ-SbQVkXbsxDxlqpf8N21JBFv6rU-8lSMQyLO3GK-Ze8La5o4j2Cw_1SXH3fUD7PqiCbEJfclIJ6s9tfrA56ttfzjw_bx90OqTCXmQLvBGu_o5Y/s1600/tamanlangit.jpgDi suatu senja di kota metro politan Bandung, ada seorang lelaki yang yang sedang merenungkan sesuatu, dia adalah Arya. Arya adalah seorang lelaki yang ganteng dan hidup sederhana, ia merantau dari Bengkulu menuju Bandung untuk kuliah di salah satu universitas ternama Bandung yaitu Institut Teknologi Bandung. Dia pergi ke Bandung hanya bermodalkan laptop Buruk yang diberikan ayahnya sebagai hadiah pada ulangtahunya yang ke-17. Di tengah kota kembang tersebut dia bukan merenungkan tentang pacar, melainkan merenungkan bagaimana kehidupannya kelak di kota tersebut. Uang yang diberikan kedua orangtuanya tiap bulannya hanya cukup untuk membiayai biaya nge-KOS dan makan saja di sana sedangkan untuk biaya kuliah dia harus menabung dari sisa uang makan dan itupun masih kurang. Saat merenung tiba – tiba Joe sahabat sekaligus teman kosnya Arya mengagetkanya dari belakang, Arya pun langsung Refleks dan langsung menendang Joe dengan tendangan TAEKWONDO yang dia pelajari ketika di Bengkulu, Joe pun lansung merintih kesakitan karena ditendang oleh Arya perutnya. “Joe,kamu nggak apa – apa kan ?” Tanya Arya. “nggak apa – apa kok,cuma sakit sedikit” Joe menjawab sambil memegang bagian perutnya yang ditendang Arya. “Maafin aku ya Joe,aku tadi nggak sengaja,kamu sih ngagetin aku” kata Arya. “ iya aku maafin kamu,ngomong – ngomong tendangan kamu kuat banget, kamu belajar dari mana?” tanya Joe. “ waktu SMA dulu aku masuk bela diri TAEKWONDO” jawab Arya. “ ohh, sampai sabuk apa kamu dulu belajar TAEKWONDO?” Tanya Joe. “ Cuma sampai sabuk merah.” Jawab Arya. “ Cuma kata kamu ? itukan udah tinggi tingkatannya?” tannya Joe. “ walaupun sabuk aku udah tinggi,tapi teknik yang aku punya masih kurang sempurna. “ jawab Arya dengan rendah hati. “ ah, kebiasaan kamu ya, selalu aja kamu ini merendahin diri kamu “ kata Joe. Sambil bercakap - cakap merekapun langsung pulang ke kosan mereka karena hari sudah hampir malam.

Pagipun tiba, Arya dan Joe buru – buru pergi ke Kampusnya di ITB. Arya Mengambil jurusan Teknik Informatika disana sedangkan Joe mengambil jurusan Teknik Elektro. Mereka selalu bertukar pikiran tentang mata kuliahnya. Pada hari itu Arya belajar tentang Logika yang diajari oleh Dosen Jono, Dosen Jono sangat kagum melihat Arya, karena menurutnya Logika Arya sangat bagus, dalam berpikir Arya mengkesampingkan emosi dan berpikir dengan logika orang yang seperti itu sangat mahir dalam membuat software. Akhirnya Aryapun dijadikan asisten dosen oleh dosen Jono.

Pada saat malam minggu Joe ingin pergi mengapeli ceweknya yang bernama Ani, ani adalah cewek yang cantik dan berambut lurus. “ Mau kemana kamu Joe ? pakaian udah rapi rambut udah rapi, tapi sayang muka kamu belum rapi. “ Tanya Arya sambil tertawa. “ eits, jangan salah, walaupun tampang pas-pasan tapi gue punya cewek Bro, nggak kayak loe .” jawab Joe. “ gue bukannya bukannya gak ada cewek Bro, tapi gue itu malas punya cewek, karena menurut gue "Cinta Itu Tidak Kemana - kemana .” kata Arya. “ kalau loe nggak ada usaha gimana cinta itu datang Bro ?” tannya Joe. “ Iya juga sih “ jawab Arya. “ ya udah gue pergi dulu, kasian cewek gue nunggu di rumahnya “ kata Joe. Joe pun langsung pergi ke rumah ceweknya Ani dengan menggunkan motor Supra Fit miliknya. Karena tidak ada kawan yang menemaninya akhirnya Arya pergi keluar kos an lalu melihat indahnya bulan punama yang ditemani bintang - bintang yang berkelap – kelip. Setelah menikmati indahnya langit dimalam hari akhirnya Arya pergi untuk tidur.



Pada hari minggunya Joe bertanya kepada Arya. “ Ry udah kamu bayar uang kuliah? “ Tanya Joe. “ Belum. “ jawab Arya. “ terus kenapa kamu santai – santai aja ? “ tannya Joe. “ Karena Gue yakin bahwa Allah Tidak Akan Memberikan Cobaan Diluar Batas Kemampuan Makhluk-Nya. Dan gue juga ini sedang usaha cari uang kuliah” Jawab Arya.

Pada hari senin seperti biasa Arya dan Joe pergi ke Universitasnya. Pagi itu juga dosen Jono memngumumkan bahwa sebentar lagi ada lomba membuat software dan membuat robot se- Asia Tenggara. Arya pun Optimis untuk mengikuti lomba tersebut. Aryapun meminta Do’a kepada sahabatnya Joe agar ia dapat terpilih mewakili universitasnya dan mendapat juara dalam kontes tersebut. “ aku do’a kan kamu supaya kamu dapat mewakili universitas kita tapi aku nggak yakin kalau kamu menang dalam kontes tersebut,karena kontes tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa se-Asia Tenggara.” Kata Joe. “ Nothing Is Impossible In The World “ tegas Arya. Akhirnya dosen Jono memilih Arya dalam Lomba Tersebut, alhasil tidak sia-sia dosen jono mengutus Arya dalam tersebut. Arya pun Berhasil meraih mendali Perak dalam kontes tersebut.

Suatu hari Arya dipanggil oleh pihak universitas karena ia belum membayar uang kuliah,Arya pun mulai bingung ia mencari pinjaman kemana – mana tapi tidak ada juga. Aryapun berniat masuk kedalam komunitas hacker di bandung. Bermodalkan laptop pemberian ayahnya Aryapun langsung masuk dalam komunitas tersebut, dalam komunitas Arya mempelajari cara membobol situs yang ada di dunia maya. Karena Arya terdesak untuk membayar biaya kuliah Arya langsung membobol situs salah Bank di Indonesia. Arya memindahkan uang kedalam rekeningnya untuk biaya kuliahnya. Karena keamanan Internet di Indonesia sangat Minim jadi Arya tidak ketahuan oleh pihak Bank. Arya pun melakukan tindakan tersebut sampai semester terakhir ia kuliah.

Benar pepatah mengatakan bahwa “ Sepandai - pandai tupai melompat Pasti akan Terjatuh pula “. Itulah yang dialami oleh Arya, setelah beberapa lama ia menggunakan uang haram itu untuk biaya kuliahnya, pihak bank telah mengetahui bahwa ada seseorang yang telah membobol sistem keamanan bank tersebut. Karena di Indonesia teknologi kurang memadai pihak bank pun menghubungi pihak CIA untuk mengetahui siapa yang telah membobol sistem keamanan di Bank tersebut,setelah beberapa hari dilakukan pencarian akhirnya mereka menemukan siapa yang telah merusak system keamana bank tersebut. Arya pun ditangkap di kosan miliknya. CIA kemudian bernegosiasi dengan Arya, apabila Arya dapat menunjukan siapa pemimpin dari komunitas ini maka ia akan di bebaskan. Arya pun menunjukan siapa ketua dari komunitas hacker bandung ini. Ternyata dalang dari semua ini adalah Jono, dia adalah dosen yang mengajar di ITB, Jono telah lama menjadi buronan CIA karena telah membobol system keamanan di bank dunia. Dosen Jono pun akhirnya ditangkap oleh CIA dan Arya kini dibebaskan. Arya pun dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik walaupun dengan menggunakan uang haram. Akhirnya Arya Lulus kuliahnya dengan IP tertinggi di Universitasnya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCN4CG6WRQqe-uHfvVDzAkDhweqbN0XTH44aUsr087gKOZTMlbt79SAIbOk7ea0D8seNadPf-w-u8n68KeMowubsxEdxszjo-XQap1EYIn3EqlBWsQtXgTfMkpmh7gIeB7TpGpwqPIF3g/s1600/Say_Hello_2_Heaven_by_americanpsycho.jpg
Setelah lulus kuliah Arya di undang untuk kerja di Perusahaan komputer ternama di dunia yaitu Microsoft. Setelah diterima kerja di Perusahaan Microsoft, Arya pun pulang ke kampung halamannya yaitu Bengkulu. Setelah semapai disana Arya bertemu dengan Orang tuanya dan menceritakan semua hal yang terjadi saat ia merantau ke Kota Kembang Bandung. Keesokan harinya di kota Bengkulu tepatnya Bengkulu selatan, Arya pergi jalan - jalan ke Pantai Pasar Bawah Karena dia sudah lama tidak pergi kesana. Saat sedang berjalan di pantai, tiba – tiba Arya menabrak seseorang wanita. “ jalan itu pakai mata dong ! “ kata wanita itu sambil marah . “ maaf Mbak,saya tadi tidak melihat “ jawab Arya. “ ka..ka..kamu kak Arya kan ?” Tanya Wanita itu. “ Iya, emang kamu siapa?, perasaan aku nggak kenal.” Jawab Arya. “ini aku Alisa. “ jawab Alisa. “ oh, Alisa, kamu adek kelas aku dulu kan?” jawab Arya. “ sudah lama nggak ketemu ya kak, kemana aja?” Tanya Alisa. “ kemarin kuliah di Bandung” jawab Arya. “ngambil jurusan apa kemarin ?” Tanya Alisa. “ jurusan Teknik Informatika, Kalau kamu ? “ aku kuliah di UNSRI, ngambil jurusan kedokteran.” Jawab Alisa. Mereka pun bercakap – cakap smabil menikmati Senja di pantai Pasar Bawah di Kota Manna, Bengkulu.

Jumat, 11 November 2011

Antara Bolos, Acin & Tukang Cimol, Karya Boim Lebon

 

Ternyata bolos banyak menyisakan penderitaan. Bayangin, orangtua harus datang, bo! Duh, mana mungkin orangtua gue tau perbuatan ini? Bokap gue tuh, selain bisnisman, juga seorang pemuka masyarakat yang lumayan terpandang.

SEBETULNYA gue bukan tipe anak bandel. Sebagai contoh aja, gue tuh belum pernah ikutan bolos atau madol dari sekolah. Tapi hari itu, entah setan apa yang membuat gue jadi setuju dengan ajakan Acin?
Acin ini teman sekelas gue yang lumayan kreatif tapi bandelnya minta ampun. Hampir setiap minggu pasti dia punya jatah bolos. Tapi hebatnya, sampai hari ini belum pernah ketahuan atau ketangkap basah sama guru.
Acin orangnya emang menarik. Selain sosoknya tinggi, dengan rambut lurus, wajah yang lumayan kiyut dan doyan cengar-cengir itu membuat sosoknya mudah dikenali.
Namanya memang unik, cukup satu kata; Acin. Tapi dia senang karena bisa berarti … ANAK CAKEP INDONESIA! He he he.
Tapi gosipnya, tu’ anak dilahirin waktu ibunya lagi flu berat, dan sering bersin … A-aciiin! Jadinya ya gitu, pas lahir langsung dikasih nama, Acin, deh! Hi hi hi.
“Gila, hari ini bawaannya ngantuk banget!” cerita gue ketika duduk di samping Acin. “Semalam nggak bisa tidur.”
“Mendingan cabut aja bareng gue,” tukas Acin enteng.
“Cabut?”
“Iya, abis istirahat pertama. Tas titipin ke Bu Romlah, ntar tinggal dilempar dari belakang dapur kantinnya dia. Gue udah biasa kok.”
Langsung terbayang keluar dari sekolah sebelum bel pulang, hmm... asyik juga. Gue bisa mampir ke warnetnya Tohari, mahasiswa teknik yang buka usaha warnet dekat rumah, bukannya mau browsing atau chatting tapi cuma mau numpang tidur di ruangan kompernya yang ber-AC itu.
Uuu, enak banget!
“Kalo mo ikut, cepet tas lo titip ke Bu Romlah.”
“Eh, t-tapi, gue belum pernah cabut.” Gue memang agak khawatir dengan ajakan itu.
“Lo harus ngerasain. Masak lo belon pernah madol, sih,” Acin malah memanasi. “Gimana lo bisa cerita ke anak-anak lo?”
“Eh, iya, sih. Tapi apa hubungannya sama anak-anak gue?”
“Ya, kalo lo udah merit, terus punya anak kan enak punya bahan cerita buat mereka.”
Gue manggut-manggut. Tapi anggukan kepala ini bukan berarti setuju, soalnya di dalam hati gue masih khawatir. Masak sih cuma gara-gara feel sleepy terus cabut dari sekolah. Nggak kuat banget alasannya.
Tapi anehnya pas istirahat gue ngikutin jejak si Acin menitipkan tas ke Bu Romlah. Ini artinya step pertama udah gue lakukan. Langkah selanjutnya manjat pagar sekolah. Ini langkah yang paling menegangkan.
Pagar sekolah lumayan tinggi, sekitar satu setengah meter, di atasnya ada kawat berduri, tapi sebagian udah pada bolong. Nah, rencananya kita mau molos lewat pager kawat yang bolong itu. Yang bikin deg-degan bukan karena tingginya pager dan bolongnya kawat berduri yang cuma pas sebadan, tapi kemunculan guru piket yang suka tiba-tiba ke situ…
“Gue naik duluan, ya,” kata Acin yang dengan sigap meloncat dan berpegangan pada bagian tembok.
“Terus?”
“Ya, elo!”
“Gue?”
“Siapa lagi? Kita kan cuma berdua!”
Acin naik dan dengan mudah saja memasukkan kepala ke sela pagar kawat berduri, dan sedetik kemudian dia pun sudah berada di luar pagar. “Hoy, cepet! Tas lo udah di sini, nih!”
Gue takut-takut, celingak-celinguk dulu, akhirnya manjat juga.
Untuk bisa meloloskan badan ke sela-sela pagar kawat rasanya seperti mau lari dari kejaran macan buas, deg-degan banget!
“Hei kamu!”
“Benar Cin, gue masih di atas ….”
“Hei kamu!”
Eh, itu bukan suara Acin? Gue lihat ke belakang, taunya suaranya Pak Brur!
“Hei kamu …!”
Gue berusaha tersenyum tapi Pak Brur malah melotot kejam. Gue sempat bingung, tapi akhirnya gue loncat ke luar. Di luar Acin udah nggak ada, dia udah kabur, cuma tas gue aja tergeletak sendirian di tanah.
SESAMPAI di warnetnya Tohari yang lagi sepi dari pengunjung gue nggak bisa tidur, malah mikirin gimana besoknya menghadapi Pak Brur yang terkenal galak itu. Udah gitu Pak Brur juga wakil kepala sekolah lagi. Gue jadi tambah pusing. Boro-boro bisa tidur-tiduran, ditawarin makan siang aja ama Tohari gue males!
BESOKNYA kekhawatiran gue jadi kenyataan! Gue dipanggil Pak Brur. Keringat ngucur dari jidat. Tapi untungnya Acin juga dipanggil, jadi ada temannya.
“Eh, Cin, gue, nggak cerita kalo cabut ama elo,” Gue khawatir Acin marah, tapi ternyata Acin cuek aja. “Tenang aja …”
Gue betul-betul salut melihat sikap dan gaya Acin yang cool banget menghadapi Pak Brur. Padahal di dalam ruang kerja Pak Brur yang sumpek – banyak buku-buku cetak bergeletakan, alat-alat olahraga, boneka peraga, baju seragam anak-anak yang masih diplastikin – kita berdua disembur abis-abisan, bahkan diancam dikeluarkan dari sekolah segala.
“Besok orangtua kalian harus menghadap!” titah Pak Brur menutup orasinya.
Ternyata bolos banyak menyisakan penderitaan. Bayangin, orangtua harus datang, bo! Duh, mana mungkin orangtua gue tau perbuatan ini?
Bokap gue tuh selain bisnisman juga seorang pemuka masyarakat yang lumayan terpandang. Nyokap juga orang sibuk. Mereka nggak percaya kalo anaknya dipanggil sekolah karena membolos. Bisa-bisa mereka marah besar ke gue! Aduuuh, gimana, dong?
Tapi Acin kelihatan santai.
“Cin, kok lo nggak panik, sih?”
“Gue udah dapat orangtua ….”
“Maksud lo?’
“Tukang somay ….”
“Tukang somay?”
“Iyalah tukang somay yang mangkal di pengkolan sana, dia tuh gue suruh datang menghadap Pak Brur, tinggal gue dandanin dan ngaku sebagai adik nyokap atau siapalah… pokoknya dengerin aja omongan Pak Brur, pasti beres!”
Gue manggut-manggut lagi. Kali ini gue nangkep maksud Acin.
Apakah jejak Acin yang ini gue tiru lagi? Apa resikonya nggak kalah syerem?
Lagi-lagi gue nggak abis pikir, karena sore itu juga gue samperin tukang cimol yang mangkal nggak jauh dari sekolahan. Tukang cimol ini lumayan bersih, dia berasal dari Jawa Barat tepatnya di dekat Cianjur sana, dan kalo gue kasih pinjem baju batik bokap gue, rasanya dia lumayan pantas jadi “paman” gue.
“Jadi teh saya harus jadi orangtua kamu? Apa pantas?”
“Hmm, bukan ortu, tapi paman! Iya, bilang aja lo adik bokap gue, dan bokap gue tuh nggak sempet datang ke sekolah … karena sibuk. Lo tinggal dengerin aja ocehan guru gue. Ntar lo gue kasih jigo, deh!”
“Tapi tidak lama kan? Soalnya dagangan cimol saya nggak ada yang nungguin.”
“Nggak lama! Cuma menghadap sebentar aja!”
“Iya, deh.”
“Ya, udah besok jam sembilan pagi lo ke sekolahan ya.”
“Baik, atuh.”
Otomatis pada jam pelajaran pertama gue jadi nggak konsen. Tapi Acin kelihatan tenang-tenang aja.
“Cin, ortu lo udah datang?”
“Udah, malah udah balik lagi.”:
yang masuk cuma si tukang somay aja.
“Tolong awasi anak ini!” titah Pak Brur seraya menunjuk ke arah gue yang salting.
Tukang cimol kemudian siap menanda-tangani surat perjanjian yang disodorkan Pak Brur, “bahwa pihak sekolah tidak segan-segan untuk mengeluarkan Bondan dari sekolah, apabila dia mengulangi perbuatannya lagi …..”
Hm, tanda tangan... Dalam hati gue sih janji nggak bakal mengulang perbuatan bolos lagi. Gue akuin gue bukan tipe anak yang cocok untuk ber-madol-ria kayak si Acin itu!
Tiba-tiba pintu Pak Brur diketuk dari luar, “Siapa?”
“Eli, Pak.”
“Oh, ya, masuk!”
Ternyata Mbak Eli, anak buahnya Bu Romlah yang masuk mengantarkan pesanan makan siang untuk Pak Brur.
“Taruh saja di situ …” kata Pak Brur menyuruh Mbak Eli meletakkan seporsi gado-gado ke meja Pak Brur yang penuh dengan buku-buku.
“Baik Pak, “ jawab Mbak Eli yang melirik ke arah gue dan gue balas senyum.
Tapi ketika Mbak Eli mau keluar meninggalkan ruangan, dia melihat ke arah pedagang cimol dan langsung kaget, “Ealah, Kang Acep, ngapain di sini? Duh, pake batik segala, kayak mau kondangan?”’
“Eh Eli, anu, anu abdi teh …”
“Lho, kalian saling kenal?” Pak Brur juga bingung.
”Ini Kang Acep, yang pernah saya ceritakan ke bapak …”
“Tunangan kamu?” tebak Pak Brur lagi.
“Iya.”
“Yang katanya dagang cimol di perempatan sana?”
“Iya, Pak …” tegas Mbak Eli,
“Jadi paman kamu itu pedagang cimol?” tanya Pak Brur langsung penuh selidik ke gue.
Gue jadi kaget, “Eh, i-iya, iya … .”
Tapi Pak Brur langsung menangkap gelagat nggak beres, soalnya dia melotot lagi ke arah gue, sambil menarik surat perjanjian yang udah ditanda-tangani “paman” gue.
Suer, gue akhirnya nggak bisa ngomong apa-apa lagi … yang teringat cuma bayangan wajah si Acin yang suka cengar-cengir itu ….


SUMBER

GADIS IMPIAN, karya Melody Muchransyah


“Cinta itu terlalu indah. Sayang aja kalau gadis secantik Mbak, kapok jatuh cinta. Pasti banyak cowok di luar sana yang patah hati...!”


Gadis itu datang lagi!
Firman buru-buru merapikan rambut ala kadarnya dan menegapkan postur tubuhnya agar terlihat lebih kekar.
“Siang, Mas,” sapanya lembut.
Melihat senyum manis dan lesung pipi sang gadis, Firman merasakan jantungnya bergejolak.
Sambil mencoba berkonsentrasi, Firman tersenyum gugup, “Pinjam apa, Mbak?”
Sang gadis memutar pandangan ke sekeliling ruangan. “Apa aja, deh,” katanya akhirnya. “Yang romance gitu, ya... Lagi jatuh cinta, nih!” Tambahnya centil, membuat hati Firman memanas.
Firman tersenyum tipis, mencoba menutupi kekecewaan di dalam hatinya.
“The Notebook?” Tawar Firman. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Firman pun memasukkan DVD yang dimaksud ke dalam kantong plastik.
“Semoga langgeng ya, Mbak,” tambah Firman sebelum gadis itu berbalik pergi.
“Langgeng?” tanyanya heran.
“Iya. Biar Mbak sering-sering pinjem DVD ke sini!” Canda Firman, membuat gadis itu tersenyum lebar..
“Mas, Gue Kapok Jatuh Cinta, donk!”
“Hah?” Firman membelalak, “Apa?”
“Saya mau pinjem DVD Gue Kapok Jatuh Cinta.... Ada?” Tanya Gadis itu lagi.
Firman mengangguk kaku, mencari di katalog, dan memasukkan DVD ke dalam kantong plastik.
“Lagi kapok jatuh cinta?” Tanya Firman iseng.
“Iya...” jawab sang gadis, lirih, membuat hati Firman tersentak. Ini adalah kesempatan yang telah lama Firman nanti-nanti! Di saat sang gadis tengah patah hati, dan mungkin Firman bisa mengajaknya ngobrol lebih jauh ketimbang obrolan pelanggan dan penjaga rental DVD yang selama ini mereka lakoni.
“Kok kapok?” Firman bertanya penasaran.
“Iya, nih, kapok aja...” si gadis seperti biasa tersenyum dengan manis. Namun ketara betul bahwa ia tak ingin membahas perasaannya kepada seorang penjaga rental DVD yang bahkan ia pun tak tahu siapa namanya.
“Jangan kapok, donk, Mbak.”
“O ya? Kenapa?” Si gadis kembali bertanya, “Takut saya gak bakal minjem DVD lagi di sini?”
Firman tertawa, “Itu salah satu penyebabnya. Tapi...”
“Tapi apa?” sang gadis mengerutkan kening, membuat Firman setengah mati merasa gemas.
“Cinta itu terlalu indah. Sayang aja kalau gadis secantik Mbak, kapok jatuh cinta. Pasti banyak cowok di luar sana yang patah hati...!”
Gadis itu tergelak. Sambil mengambil bungkusan DVD, ia melambai, “Mas bisa aja.”
Firman tersenyum memandang punggung si gadis yang berlalu pergi.
Namun sebelum sampai di depan pintu, punggung itu tiba-tiba berbalik.
“Makasih, ya, Mas....”
Dan gadis itu kembali berlalu.

***

Entah sejak kapan Firman jatuh cinta pada sang gadis. Tapi rasanya, kalau Firman tak salah ingat, semenjak gadis itu pertama kali melangkah masuk ke dalam rental DVD itu, di mana ia telah setahun belakangan ini bekerja. Gadis itu memiliki rambut panjang dan senyum termanis yang membuat Firman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Semenjak itulah ia selalu menanti dengan sabar, siang dan malam, untuk melihat kembali senyum sang gadis dan percakapan basa-basi mereka mengenai film yang akan dipinjam si gadis.
Namun Firman puas. Ia bahkan menolak untuk kembali mencari kerja di tempat yang lebih baik. Firman tak pernah menyesal. Baginya, pekerjaan inilah yang ia butuhkan. Ia bahagia, asal dapat terus bertemu dengan sang gadis impiannya....

***.
Pintu terbuka saat Firman sedang tenggelam dalam lamunannya.
Firman menoleh, tak menyangka ia akan menemukan senyum si gadis yang tadi tengah diimpikannya, kini menyapa tepat di hadapannya.
“Mas,” sapanya ramah.
“Eh,” Firman mencoba untuk menutupi kegugupannya, “Mau pinjem apa, Mbak?”
Si gadis berjalan berkeliling, meneliti jajaran cover DVD di sepanjang dinding. Firman memandangi sosok itu dengan lekat, seakan tak ingin melepaskannya dan ingin agar gadis itu terus berada di dekatnya.
“Film yang bagus apa, Mas?” Si gadis berbalik.
“Tergantung... Mbak mau nonton film yang kayak apa?”
Si gadis tersenyum, “Kalau film yang Mas suka, apa?”
Firman tercekat. Apa benar ini bukan mimpi? Apakah sang gadis tadi benar-benar menanyakan apa film yang ia suka?
Firman langsung tersenyum lebar. Ini adalah momen yang telah lama dinantinya. Saat di mana ia akhirnya bisa ngobrol dengan sang gadis impiannya. Berdua. Walau masih seputar masalah film, Firman tak keberatan.
“Saya suka Crash,” jawab Firman.
“Yang menang Oscar?”
Firman mengangguk, “Filmnya bagus lho! Atau, Mbak mau nonton yang new release?”.
Si gadis mendekat, terlihat sangat tertarik, “Kalau Lady in the Water?”
“M. Night Shyamalan?” jawab Firman cepat, “Saya lebih suka The Village. Lebih original.”
Si gadis tersenyum.
“World Trade Center aja!”
Firman dan si gadis menoleh. Seorang pemuda bertubuh tegap baru memasuki ruangan. Ia langsung merangkul sang gadis dari belakang, membuat Firman terpaku.
“Gak mau, ah, serius gitu!” rajuk si gadis, “My Super Ex-Girlfriend aja, ya?”
Firman menunduk, mencoba menghindari kemesraan yang sedang berlangsung di depan matanya.
“Jadi gimana, nih? Mau pinjem apa?”
Si gadis menatap kekasihnya.
“Ya udah, pinjem dua-duanya aja, Mas,” kata si pemuda akhirnya, sambil berjalan keluar, “Aku tunggu di mobil ya, Sayang....”
Si gadis mengangguk, jengah melihat tatapan Firman yang dibakar cemburu.
“Pacar barunya, ya?” Firman mencoba bersikap netral. Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya malah terdengar sarkasitik.
Gadis itu tersenyum, “Bukan. Itu pacar saya yang dulu.”
Firman membelalak kaget, “Yang waktu itu bikin Mbak kapok jatuh cinta?”
Gadis itu mengangguk.
“Kenapa...?”.
“Karena cinta terlalu indah,” jawab si gadis sambil tersenyum lembut, “Sayang kalau saya harus kapok jatuh cinta.”
Firman tertegun. Ya, cinta memang terlalu indah. Terlalu indah untuk menjadi sebuah obsesi, terlalu indah untuk menjadi alasan hadirnya rasa cemburu.
Gadis itu menggenggam tangan Firman. Sambil tersenyum, ia berbisik pelan, “Makasih, ya, Mas...”
Firman mengangguk, membalas senyum itu dengan tulus.
Sang gadis impian itu kini berlalu, bersama sebuah cinta yang kini menantinya di luar sana. Namun Firman tidak marah, atau cemburu, apalagi sampai kapok jatuh cinta.
Firman hanya yakin, ia akan menemukan cinta yang indah itu bersama seorang gadis impian yang memang ditakdirkan untuk bersamanya.

Rabu, 09 November 2011

Hiiiiiii...!!!


Seperti biasanya, pada hari Senin seluruh Warga SMA Pelita Jaya melaksanakan upacara bendera. Kebetulan hari ini aku yang betugas sebagai Pemimpin Upacara. Rasanya agak deg – degan sih… Karena ini pertama kalinya aku bertugas sebagai Pemimpin Upacara. Untunglah upacara bendera berjalan dengan lancar, bahkan Bapak Kepsek memujiku bahwa upacara kali ini adalah yang paling tertib dari upacara yang sudah – sudah, bukan main senangnya hatiku.
Sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Andi Kurniawan. Aku sekarang duduk di kelas Sepuluh atau kalau orang – orang dulu bilang “kelas 1 SMA”. Banyak orang bilang bahwa aku ini mirip Andra, gitaris yang tergabung dalam band Andra & The Backbone itu loh… Hahaha… Dan dengan ketampanan wajahku ini, banyak gadis yang tergila – gila samaku (termasuk juga ibu – ibu, hahaha…). Jadi curhat deh… Oke, kembali ke cerita.
Teman – teman sekelasku semuanya mengucapkan selamat kepadaku, bahkan para gadis – gadis semuanya menggerumbuli aku. Tiba – tiba…
“Hoi… Semuanya duduk di bangkunya masing – masing, ada Pak Salman…!” Teriak Ryan si ketua kelas.
Dalam sekejap, keadaan yang mulanya seperti dengungan segerombolan lebah menjadi senyap.
“Selamat pagi, anak- anak…” Sapa Pak Salman.
“Pagi Pak…” Jawab kami serempak.
“Sekarang buka buku kalian halaman 57…  Kita akan belajar tentang… … … …” Perintah Pak Salman.
“Baik Pak…” Jawab kami lagi.
Lalu dengan kecepatan yang berbeda – beda kami semua membuka buku di halaman yang Pak Salman perintahkan, kemudian kami terhanyut dalam pelajaran yang disampaikan Pak Salman.
Memang, aku tidak terlalu pintar, IQ aku pun rendah. Tetapi jangan salah, aku tidak pernah keluar dari 10 besar di kelas.
Teng… Teng… Teng… Bunyi bel tiga kali untuk pertama kalinya menandakan jam pelajaran pertama dan kedua telah usai, dan siswa pun dipersilahkan untuk istirahat. Biasanya, pada saat istirahat. Aku tetap berada di kelas, tetapi hari ini aku lebih memilih menghabiskan jam istirahat di kantin sekalian meredakan demo di perut yang semakin menjadi – jadi.
Akhirnya, aku memesan semangkuk mie ayam bakso. Dan duduk di samping temanku yang juga lagi menyantap makanannya. Tak lama kemudian, mie ayam bakso pesananku telah datang. Tanpa ba bi bu lagi langsungku makan, maklumlah…
“Hmmm… Enak…” kataku dengan mulut penuh terisi mie ayam bakso.
“Eh… Tumben kamu ke kantin, Ndi?” Tanya Putra. Temanku yang satu ini sangat jago main gitar.
“Maklumlah Put, aku ini lagi kelaparan… Hehehe…” Jawabku sambil mengambil gelas untuk minum.
Mataku tak sengaja melihat sekelompok kakak kelas, yang kelihatannya sedang serius membicarakan sesuatu.
Rasa penasaran membuatku bertanya pada teman cewek yang kebetulan duduk di hadapanku. Dia bersama 2 orang teman ceweknya.
“Eh… Cha… Kakak kelas lagi ngomongin apa sih? Kok kayaknya serius banget? Tanyaku pada Icha, cewek yang cantik, dan berkulit putih ini.
“Ooh.. Kakak kelas lagi ngomongin soal penampakan hantu di sekolah kita…” Jawab Icha.
“Masa sih..?” Tanyaku penasaran.
“Beneran, tadi ketika kami lewat di dekat mereka, kami mendengar pembicaraan mereka…” Jawab Icha lagi.
“Kata mereka, malam kemarin salah satu kakak kelas kita melihatnya… Kalau tidak salah, namanya Dinda…” Tambah Riri yang duduk di sebelah kiri Icha.
“Iya… Katanya Kak Dinda sampai pingsan loh… Untung ada temannya yang datang ke sekolah untuk nyari tugas… Kalau tidak… Pasti Kak Dinda akan… … …” Tambah Dwi yang duduk di sebelah kirinya Riri.
“Salah Kak Dinda… Ngapain malam – malam ke sekolah…” Kataku cuek.
“Kak Dinda ke sekolah ada maksudnya, dia ingin ngumpulin tugas yang besok harus sudah dikumpulkan..” Jawab Icha.
Suasana hening sesaat, dalam hitungan menit. Makanan yang kami pesan pun telah berpindah ke dalam perut kami. Tiba – tiba…
“Gimana kalau kita buktikan… Apakah benar di sekolah kita ini memang ada hantunya?” Usul Putra.
“Boleh juga usulmu… Kapan kita membuktikannya?” Tanya Icha.
“Ehem… Kita? Maksud kamu kita berdua juga ikut?” Tanya Dwi.
“Iya… kamu berdua harus ikut nemenin aku… Kalau nggak, aku nggak mau lagi traktir kalian…” Ancam Icha.
“Iya Cha… Kami bakalan ikut kok…” Jawab Dwi dan Riri serentak.
“Oke… Kita kumpul di gerbang sekolah nanti malam, pukul 20.00…” Kata Putra.
“Buat apa kita melakukan hal kayak gini… Mana ada sih yang namanya hantu….” Kataku.
“Kamu takut ya, Ndi?”Tanya Putra. “Nggak lah, oke kalau kalian semua memaksa. Aku akan datang malam ini…”Jawabku.
            Malamnya, kami berkumpul di depan gerbang sekolah. Tinggal satu orang lagi yang belum datang, si Putra. Dia yang memberi usul, dia juga yang nggak datang. Aku segera mengirim SMS pada Putra, selang semenit kemudian. Putra datang dengan motor Mega Pronya.
“Hehehe… Sory, saya terlambat soalnya minjam handy cam dulu sama kakak. Buat merekam penampakan hantu nanti…” Kata Putra sambil cengar – cengir.
“Huuu… Dasar..!!” Kata Icha dkk. Sambil berusaha memukul Putra, tapi Putra bisa menghindarinya dengan mudah.
“Langsung aja yuk, ngapain lama – lama nunggu di sini…” Kataku tidak sabar untuk membuktikan yang namanya hantu itu tidak ada.
            Kami lalu masuk ke dalam sekolah, memeriksa semua ruangan yang ada. Putra sibuk dengan handy camnya, merekam semua apa yang ada sementara tanganku di pegang oleh Icha dan Dwi yang sedang ketakutan. Lain halnya dengan Riri, dia berada di dekat Putra. Karena memang mereka sudah pacaran selama satu tahun.
Tibalah kami di ruangan terakhir, laboratorium IPA. Semua kelas yang sudah kami periksa tidak menunjukan tanda –tanda adanya penampakan hantu. Aku mulai mencium aroma kemenanganku, yang sebentar lagi akan berhasil membuktikan bahwa tidak ada yang namanya hantu.
“Hahaha… Sudah kubilangkan? Mana ada yang namanya hantu itu…” Kataku pada mereka.
“Iya, kita sudah memeriksa semua ruangan tapi tidak ada hasilnya” Kata Icha membenarkanku.
“Berarti, percuma kita capek – capek datang ke sini dan memeriksa semua ruangan yang ada” Kata Riri dengan nada kecewa.
“Teman – teman kalian lihat itu nggak?” Kata Putra. “Iya aku lihat, Put” Kata Dwi. “Mana? Emangnya lihat apa sih?” Kataku, Icha dan Riri.
Sesosok tubuh putih – putih terbang menuju kami sambil tertawa kemudian mendarat di depan Putra jaraknya sekitar 1 meter.
“Hihihihihi….”Tawa mahluk itu.
“Ha.. Ha… Hantu….!!!!!” Teriak kami bersamaan.
Tidak tahu siapa yang mulai duluan, kami semua mengambil langkah seribu menjauhi tempat itu. Tetapi, hantu itu mengejar kami.
“Hihihihihihihi…. Hihihihi…” Tawa Hantu itu, sambil terus mengejar kami.
“Andi, tungguin aku… Kaki aku sakit nih…” Kata Icha sambil memegangi kakinya.
Aku segera berbalik arah menjemput Icha dan menggendongnya, jarak aku dengan si Hantu tinggal 2 meter lagi. Tidak tahu kenapa aku tidak bisa beranjak dari tempat tersebut.
“Andi, ayo lari…!! Aku takut..!” Teriak Icha kepadaku.
Aku segera mengambil ancang – ancang untuk lari, ketiga temanku yang lainnya telah menghilang dari pandangan.
“Hihihihihihihihi… Uhuk.. Uhuk…” Batuk hantu itu. Tiba – tiba… Gubraaak…!! Hantu itu terjatuh.
Aneh, kok hantu bisa batuk dan jatuh ya? Bukan urusanku, yang penting sekarang………………………... Laaaaarrriiiiiiiiiiiii…!!!!!!!!!!!!!!

 By. Andra Kurniahadi
Bagi yang ingin mengcopy,,, harap sertakan sumber...
Hargai Karya Orang lain...