Laman

Jumat, 11 November 2011

GADIS IMPIAN, karya Melody Muchransyah


“Cinta itu terlalu indah. Sayang aja kalau gadis secantik Mbak, kapok jatuh cinta. Pasti banyak cowok di luar sana yang patah hati...!”


Gadis itu datang lagi!
Firman buru-buru merapikan rambut ala kadarnya dan menegapkan postur tubuhnya agar terlihat lebih kekar.
“Siang, Mas,” sapanya lembut.
Melihat senyum manis dan lesung pipi sang gadis, Firman merasakan jantungnya bergejolak.
Sambil mencoba berkonsentrasi, Firman tersenyum gugup, “Pinjam apa, Mbak?”
Sang gadis memutar pandangan ke sekeliling ruangan. “Apa aja, deh,” katanya akhirnya. “Yang romance gitu, ya... Lagi jatuh cinta, nih!” Tambahnya centil, membuat hati Firman memanas.
Firman tersenyum tipis, mencoba menutupi kekecewaan di dalam hatinya.
“The Notebook?” Tawar Firman. Gadis itu tersenyum dan mengangguk. Firman pun memasukkan DVD yang dimaksud ke dalam kantong plastik.
“Semoga langgeng ya, Mbak,” tambah Firman sebelum gadis itu berbalik pergi.
“Langgeng?” tanyanya heran.
“Iya. Biar Mbak sering-sering pinjem DVD ke sini!” Canda Firman, membuat gadis itu tersenyum lebar..
“Mas, Gue Kapok Jatuh Cinta, donk!”
“Hah?” Firman membelalak, “Apa?”
“Saya mau pinjem DVD Gue Kapok Jatuh Cinta.... Ada?” Tanya Gadis itu lagi.
Firman mengangguk kaku, mencari di katalog, dan memasukkan DVD ke dalam kantong plastik.
“Lagi kapok jatuh cinta?” Tanya Firman iseng.
“Iya...” jawab sang gadis, lirih, membuat hati Firman tersentak. Ini adalah kesempatan yang telah lama Firman nanti-nanti! Di saat sang gadis tengah patah hati, dan mungkin Firman bisa mengajaknya ngobrol lebih jauh ketimbang obrolan pelanggan dan penjaga rental DVD yang selama ini mereka lakoni.
“Kok kapok?” Firman bertanya penasaran.
“Iya, nih, kapok aja...” si gadis seperti biasa tersenyum dengan manis. Namun ketara betul bahwa ia tak ingin membahas perasaannya kepada seorang penjaga rental DVD yang bahkan ia pun tak tahu siapa namanya.
“Jangan kapok, donk, Mbak.”
“O ya? Kenapa?” Si gadis kembali bertanya, “Takut saya gak bakal minjem DVD lagi di sini?”
Firman tertawa, “Itu salah satu penyebabnya. Tapi...”
“Tapi apa?” sang gadis mengerutkan kening, membuat Firman setengah mati merasa gemas.
“Cinta itu terlalu indah. Sayang aja kalau gadis secantik Mbak, kapok jatuh cinta. Pasti banyak cowok di luar sana yang patah hati...!”
Gadis itu tergelak. Sambil mengambil bungkusan DVD, ia melambai, “Mas bisa aja.”
Firman tersenyum memandang punggung si gadis yang berlalu pergi.
Namun sebelum sampai di depan pintu, punggung itu tiba-tiba berbalik.
“Makasih, ya, Mas....”
Dan gadis itu kembali berlalu.

***

Entah sejak kapan Firman jatuh cinta pada sang gadis. Tapi rasanya, kalau Firman tak salah ingat, semenjak gadis itu pertama kali melangkah masuk ke dalam rental DVD itu, di mana ia telah setahun belakangan ini bekerja. Gadis itu memiliki rambut panjang dan senyum termanis yang membuat Firman langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Semenjak itulah ia selalu menanti dengan sabar, siang dan malam, untuk melihat kembali senyum sang gadis dan percakapan basa-basi mereka mengenai film yang akan dipinjam si gadis.
Namun Firman puas. Ia bahkan menolak untuk kembali mencari kerja di tempat yang lebih baik. Firman tak pernah menyesal. Baginya, pekerjaan inilah yang ia butuhkan. Ia bahagia, asal dapat terus bertemu dengan sang gadis impiannya....

***.
Pintu terbuka saat Firman sedang tenggelam dalam lamunannya.
Firman menoleh, tak menyangka ia akan menemukan senyum si gadis yang tadi tengah diimpikannya, kini menyapa tepat di hadapannya.
“Mas,” sapanya ramah.
“Eh,” Firman mencoba untuk menutupi kegugupannya, “Mau pinjem apa, Mbak?”
Si gadis berjalan berkeliling, meneliti jajaran cover DVD di sepanjang dinding. Firman memandangi sosok itu dengan lekat, seakan tak ingin melepaskannya dan ingin agar gadis itu terus berada di dekatnya.
“Film yang bagus apa, Mas?” Si gadis berbalik.
“Tergantung... Mbak mau nonton film yang kayak apa?”
Si gadis tersenyum, “Kalau film yang Mas suka, apa?”
Firman tercekat. Apa benar ini bukan mimpi? Apakah sang gadis tadi benar-benar menanyakan apa film yang ia suka?
Firman langsung tersenyum lebar. Ini adalah momen yang telah lama dinantinya. Saat di mana ia akhirnya bisa ngobrol dengan sang gadis impiannya. Berdua. Walau masih seputar masalah film, Firman tak keberatan.
“Saya suka Crash,” jawab Firman.
“Yang menang Oscar?”
Firman mengangguk, “Filmnya bagus lho! Atau, Mbak mau nonton yang new release?”.
Si gadis mendekat, terlihat sangat tertarik, “Kalau Lady in the Water?”
“M. Night Shyamalan?” jawab Firman cepat, “Saya lebih suka The Village. Lebih original.”
Si gadis tersenyum.
“World Trade Center aja!”
Firman dan si gadis menoleh. Seorang pemuda bertubuh tegap baru memasuki ruangan. Ia langsung merangkul sang gadis dari belakang, membuat Firman terpaku.
“Gak mau, ah, serius gitu!” rajuk si gadis, “My Super Ex-Girlfriend aja, ya?”
Firman menunduk, mencoba menghindari kemesraan yang sedang berlangsung di depan matanya.
“Jadi gimana, nih? Mau pinjem apa?”
Si gadis menatap kekasihnya.
“Ya udah, pinjem dua-duanya aja, Mas,” kata si pemuda akhirnya, sambil berjalan keluar, “Aku tunggu di mobil ya, Sayang....”
Si gadis mengangguk, jengah melihat tatapan Firman yang dibakar cemburu.
“Pacar barunya, ya?” Firman mencoba bersikap netral. Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya malah terdengar sarkasitik.
Gadis itu tersenyum, “Bukan. Itu pacar saya yang dulu.”
Firman membelalak kaget, “Yang waktu itu bikin Mbak kapok jatuh cinta?”
Gadis itu mengangguk.
“Kenapa...?”.
“Karena cinta terlalu indah,” jawab si gadis sambil tersenyum lembut, “Sayang kalau saya harus kapok jatuh cinta.”
Firman tertegun. Ya, cinta memang terlalu indah. Terlalu indah untuk menjadi sebuah obsesi, terlalu indah untuk menjadi alasan hadirnya rasa cemburu.
Gadis itu menggenggam tangan Firman. Sambil tersenyum, ia berbisik pelan, “Makasih, ya, Mas...”
Firman mengangguk, membalas senyum itu dengan tulus.
Sang gadis impian itu kini berlalu, bersama sebuah cinta yang kini menantinya di luar sana. Namun Firman tidak marah, atau cemburu, apalagi sampai kapok jatuh cinta.
Firman hanya yakin, ia akan menemukan cinta yang indah itu bersama seorang gadis impian yang memang ditakdirkan untuk bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar